What's on your mind?

karena setiap moment sangat berarti.....

dan aku hanya ingin tersenyum ketika membaca celotehan dari moment menyenangkan yang menggelikan, ketika ingatanku sudah tergerus detik waktu ...

He has been proposed me :)

Daisypath - Personal pictureDaisypath Wedding tickers

Kamis, 14 Juli 2016

Times flies so fast..! Who am i, now??

Sudah lebih dari 2 tahun ternyata saya tidak lagi menulis. Sekarang, hari ini tepatnya, saya tergugah kembali untuk membuka diary online yang sudah hampir mati suri. Hampir? Malah sepertinya sudah beraroma bangkai. Haha..

Tak ada lagi tempat mengadu segala kegundahan hati, teman-teman, sahabat, terlihat bahagia dengan jalan hidupnya. Percuma jika bertemu mereka, azzam saya sudah kuat untuk tidak menceritakan pengalaman pahit setelah berumah tangga, tak pernah sekalipun bercerita kekurangan pasangan, takut dosa, takut membuka aib keluarga. Sebaliknya, berusaha selalu berbagi cerita manis nya saja. Biar teman-teman juga menyegerakan menikah. Segala cerita pahit dalam suatu hubungan rumah tangga, diabaikan saja dulu ya!

Ibu bapak? Ah, apalagi mereka, mana ada orangtua yang bahagia mendengar kesedihan anaknya. Sedang saya belum bisa membahagiakan orang tua saya. Jadi saya, tidak boleh becerita kesedihan. Saya tidak boleh sedih, tepatnya.

Suami? Selama ini, sudah pasti menjadi tempat sampah setia, mendengar, memberi saran, menyemangati, bersama-sama melewati suka duka. Perfect. Almost! 

Tapi, dua orang manusia, dua orang dengan karakter dan latar belakang yang beda, sangat mustahil tidak berselisih paham. Iya kan?

Saat seperti inilah saya merasa sepi, saat saya tidak bisa menumpahkan rasa amarah, kecewa, sedih, sakit hati, akh..! Saya mungkin terlalu kekanakan, mungkin sudah seharusnya saya naik level kehidupan, tidak lagi mengeluh, cukup rasakan dan tersenyum.

Sambil menunggu saya belajar naik level, biarlah diary ini jadi pendengar yang bisu, pendengar yang setia, pembicara lewat hati saat gundah tertuang membisikkan ketenangan, semoga!

#gundah #sedih

July, 2016

Jumat, 09 Mei 2014

Menjadi Bride To Be 'engga' selalu bahagia :')

ya, benar adanya..
menjadi Bride To Be engga selalu bahagia, seperti gue, di hari ini contohnya.

beberapa hari terakhir, setiap malam, gue dan cungkring selalu ribut, entah masalah apa yang diributin, sepele sekali padahal. setiap malam ribut, dan setiap keesokan paginya semua keributan hilang berganti kemesraan, kita seolah melupakan keributan yang sebenarnya kitapun engga pernah tau apa penyebabnya.

beberapa hari berlalu seperti itu lagi dan lagi. sampai semalam (mungkin) titik puncak saat cungkring entah kemasukan setan apa menjadi sangat dingin dan pemarah. seperti biasanya, di malam hari dia memang suka menjadi pemarah, tapi lain sekali di malam itu. dia begitu dingin, sedikit kasar, dan aneh.

gue berfikir, seperti inikah rasanya menjadi bride to be? semua hal terasa menjadi sangat sensitif. semua hal menjadi terasa sangat penting dan rapuh. Atau apakah memang kita yang terlalu rumit dalam berfikir dan bertindak? ada apa dengan si cungkring? apa dia mengalami depresi tingkat kabupaten mengadapi semua ini? bukankah dia sudah pernah menghadapi hal yang lebih besar sebelumnya? kenapa dia begitu rapuh?

ini kegelisahan gue menjelang detik-detik.... Akh!


@office 14:58pm

Kamis, 17 April 2014

MENGIBARKAN “MERAH PUTIH” DI PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA


Memiliki hobby mendaki gunung bukan merupakan hal yang mudah. Banyak orang yang memandang mendaki gunung merupakan kegiatan yang aneh, buang-buang waktu, dan justru sangat berbahaya. Hal tersebut tidak semuanya salah. Namun bagi saya, mendaki gunung adalah sebuah proses kehidupan yang sesungguhnya J

Banyak persiapan yang dibutuhkan untuk mendaki gunung. Mulai dari kesiapan fisik, mental, materi, dan doa. Saya termasuk orang yang sangat jarang berolahraga, idealnya seseorang harus melakukan kegiatan olah fisik setidaknya satu bulan sebelum mendaki. Secara mental saya juga bukan seorang perempuan yang pemberani, terlebih dengan hal-hal yang berbau mistis di gunung. Namun, rasa lelah dan kebersamaan bersama teman-teman ketika mendaki terasa lebih dominan ketimbang kekhawatiran akan makhluk ghaib. Kuncinya adalah, setiap orang harus berlaku sopan santun dimanapun dia berada.

Saya selalu berusaha membuat perencanaan akomodasi secara nyaman, dan murah tentunya. Jika harus bepergian dengan menggunakan pesawat, maka saya adalah salah satu orang yang belum pernah naik pesawat dengan harga tiket normal (read : selalu tiket promo). Hal tersebut menjadi kepuasan tersendiri jika bisa mendapatkan transportasi dengan bajet minim tetapi kenyamanan maksimum.

Jadilah hari itu saya berniat pergi ke atap pulau jawa. Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Surabaya menggunakan pesawat citilink dengan biaya IDR 370.000 untuk pulang pergi (Jakarta-Surabaya-Jakarta). Dari Kota Surabaya saya melanjutkan perjalanan ke Kota Malang, Tumpang tepatnya. Terpaksa saya menggunakan jasa travel dari bandara karena saya landing di Surabaya hampir tengah malam sehingga agak sulit mencari angkutan umum untuk menuju Tumpang, yang harus dilalui dengan berganti naik turun angkutan umum. Mungkin akan menyenangkan jika saya bepergian dengan tas ransel kecil di punggung, tetapi menjadi sangat merepotkan ketika saya harus menggemblok tas ransel ukuran besar dengan packingan barang yang sangat padat dan berat.

Dari Tumpang, rangkaian perjalanan dilanjutkan menuju ranu pane dengan naik truck double gardan. Apalah itu yang pasti angkutan yang menuju ranu pane harus dilengkapi dengan double ban karena trek perjalanan yang menanjak dan berliku. Saya sangat menikmati perjalanan menuju Ranu Pane karena sepanjang perjalanan saya disuguhkan pemandangan yang sangat memanjakan mata. Truk memasuki area TNG Tengger Bromo Semeru, deretan baris bukit teletubbiespun sangat meneduhkan mata.

Perjalanan belum usai. Dari Ranu pane saya memulai pendakian dengan berjalan kaki dengan menggendong tas berisi pakaian dan beberapa logistik makanan di dalamnya. Saya start pendakian sekitar pukul 9 pagi menuju pemberhentian pertama yaitu Ranu Kumbolo yang akan dilanjutkan sampai ke Hutan Kalimati. Jarak Ranu Pane ke Ranu Kumbolo adalah sekitar sekian KM dan saya tempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam. Treknya masih dibilang cukup landai. Selama perjalanan saya pun banyak berhenti sejenak untuk beristirahat dan sekedar merebahkan badan di tanah. Perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati sekitar sekian KM dan saya tempuh selama sekian jam. Di kalimati kemudian saya mendirikan tenda beserta rombongan lainnya. Pukul 21.00 sayapun kemudian tertidur pulas karena kelelahan.

Pukul 00.00 dini hari, saat mata baru saja terpejam 3 jam dan saya masih sangat mengantuk, saya harus bangun dan mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya. Perjalanan ini baru akan dimulai. Perjalanan menuju puncak gunung tertinggi di pulau Jawa, mahameru. Saya melawan rasa dingin yang seolah menggigit kulit saya, 4 lapis pakaian dan 2 lapis celana rasanya tidak cukup memberikan rasa hangat sehingga saya masih saja menggigil dibuatnya. Niat menapaki atap jawa tak luntur, saya terus bergerak agar saya tidak terserang hipotermia.

Pukul 00.30 WIT, setelah berdoa dan memastikan perlengkapan dan pakaian saya nyaman, saya beserta rombongan memulai perjalanan summit attack menuju Arcopodo. Perjalanan ke atap pulau jawa ini tidak mudah, karena setelah saya sampai di batas vegetasi, selanjutnya track didominasi oleh pasir dan bebatuan. Perjalanan sangat menguras tenaga karena setiap kaki ini melangkah satu sampai dua langkah, maka akan merosot satu langkah. Begitu seterusnya sampai saya benar-benar sampai ke puncaknya. Kondisi alam menjadi salah satu faktor keberhasilan semua pendaki di Mahameru. Jika alam tidak mengizinkan, maka sekuat apapun tenaga yang dikeluarkan, maka saya beserta rombongan tidak akan bisa mencapai puncak nya para dewa tersebut. Terbukti, dari sekitar tiga puluh orang rombongan, hanya saya dan tujuh orang lainnya yang berhasil mencapai puncak mahameru. Selebihnya, gugur dan menyerah di tengah perjalanan karena kelelahan, kehausan, dan kelaparan. Hal tersebut tersebut terjadi karena mereka tidak menyiapkan perlengkapan summit yang matang ditengah kondisi alam yang sangat menantang.

Matahari mulai menerangi jalan saya, saat headlamp di kening saya mulai tidak terasa mengeluarkan cahayanya.  Garis oranye kekuningan mulai terlihat sebelum sang surya itu benar-benar muncul. Mungkin inilah sunrise sesungguhnya yang selama ini orang-orang bilang, yaitu saat bisa melihat matahari muncul setitik dari belakang garis kemerahan hingga akhirnya membesar dan bulat sempurna. Ahh indahnya pemandangan yang saya saksikan ini. Rombongan lainpun mulai terlihat tak jauh di depan dari tempat saya berdiri miring, sehingga menjadi acuan dan semangat saya untuk terus melangkah. Mereka mungkin hanya 30 meter di depan saya, namun ternyata untuk mencapai ke titik mereka berdiri, dibutuhkan waktu berjam-jam. Subhanallah.. tidak ada artinya langkah-langkah saya kala itu. Saya melangkah kemudian merosot. Saya melangkah setapak demi setapak, saya tetap merosot kembali. Saya mengumpulkan segenap tenaga untuk melangkah lebih cepat dan berharap akan ada hasil yang lebih signifikan ketimbang saya berjalan pelan-pelan, dan saya tetap merosot lebih banyak lagi. Semua terasa mustahil untuk mencapai puncak saat itu dan sayapun sempat meragukan diri saya mampu mencapai puncak. Nafas mulai tersengal-sengal, sangat pendek rasanya. Kandungan oksigen semakin menipis sehingga saya harus sering-sering menghela nafas dengan hentakan sembari berteriak “huahh” untuk sekadar melegakan nafas. Bentol-bentol keringat mulai mengucur deras, dehidrasi sangat terasa, yang saya butuhkan adalah minum dan tidur. Saya sangat mengantuk. Sangat sangat mengantuk. Tak heran saya sering dibangunkan oleh rekan saya yang berjalan tak jauh dibawah saya karena ternyata saya telah tertidur di jalur pendakian diatas pasir. Ya, saya tertidur di jalur summit mahameru, tertidur di ketinggian dan dalam gigitan dinginnya angin puncak mahameru.

Putus asa? Ya, saya hampir putus asa. Lelah yang teramat sangat sudah mendera saya. Pandangan mulai kabur, mata terasa berat ingin sekali terpejam, telinga terasa tak mendengar apa-apa kecuali suara hembusan angin yang lebih mirip seperti suara ombak di pantai. Kaki? Ah, kaki seolah tak sanggup lagi melangkah, terlebih jika harus terus merosot di jalur bebatuan dan pasir itu. Jika saya bisa, saya akan bayar berapapun mahalnya jika ada orang yang mau menggendong saya untuk sampai ke rumah. Bayangan tidur di kasur kesayangan dengan bantal dan guling bau iler kabanggan membayangi saya kala itu. Saya ingin pulang. Sayangnya, saya tidak punya banyak uang untuk menyuruh orang lain menggendong saya. Kalopun saya ada uang, mungkin tidak akan ada orang yang mau melakukannya karena mereka semua pun sedang berjuang masing-masing untuk mempertahankan nyawa mereka.

Yang bisa saya lakukan hanya pasrah sambil berdoa. Saya tak henti-hentinya melafadzkan nama Allah sepanjang langkah-langkah kecil kaki saya. Ditambah, sesama rekan rombongan tak henti-hentinya saling memberikan support mereka. Saya terus berjalan. Selangkah demi selangkah saya tapaki jalur bebatuan dan pasir itu. Istirahat sejenak untuk kemudian melangkah lagi. Tertidur sesaat untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Terperosok, terjatuh, besut, duduk sejenak, kemudian melangkah lagi. Semua demi mimpi dan tujuan awal saya untuk bisa menggapai puncak mahameru. Proses inilah yang saya ilhami sebagai proses kehidupan yang sebenarnya. Karena untuk meraih apa yang kita inginkan, kita harus berjuang dan bekerja keras dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Dan saat itu, Mengibarkan merah putih di puncak para dewa, di puncak tertinggi di pulau jawa merupakan kebanggan buat saya..

Setelah perjalanan melelahkan selama 8 jam perjalanan untuk summit, akhirnya saya bisa mengibarkan bendera sangsaka merah putih dipuncak mahameru. Perjalanan dilanjutkan untuk kembali ke Hutan Kalimati. Dan masih sampai saat ini saya mempunyai mimpi, suatu hari, saya berharap bisa mengibarkan bendera di puncak-puncak tertinggi lainnya di bumi tanah air Indonesia.

Backpacker ke Makassar


29 November 2013 – 3 Desember 2013

 
Dilemma sebenarnya sama perjalanan ini. Kenapa? Karena di akhir bulan ini pula kita harus membayar pelunasan DP rumah, yang jumlahnya ngga sedikit, sampe 2 dijit brayy. Antara ingin mengalihkan uang yang ada untuk nambahin kekurangan DP rumah, atau eksekusi rencana backpacker perjalanan yang udah lumayan lama direncanain ini?

Akhirnya, kita putuskan untuk tetap melanjutkan rencana backpacker ke Makassar. Dengan pertimbangan, tiket promo yang kita dapetin ke Makassar jarang-jarang ada. Jadi, timbullah prinsip backpacker ala irit kita, tancap terus walau tongpes (read : kantong kempes). Gak peduli sebulan kedepan makan apa, kita sudah terbiasa survival untuk hidup kok di hutan, walau keuangan bakal susah sekali sebulan kedepan. Haha..

Yeyyy! DP rumah lunas, semua kewajiban kepada pihak bank juga sudah dibayar, backpacker ke Makassar tetap berjalan. Tapi sebulan kedepan, gue sama si cungkring harus sering-sering gigit jari dan menahan nafsu untuk makan, belanja, hura-hura. Jangankan untuk hura-hura, bisa makan siang di kantor dan ada ongkos pulang aja itu udah alhamdulillah... hihi...

Tanggal 12-12-13, tepatnya hari Kamis, bank memberi keputusan, KPR diterima. Itu artinya resmi bin resmi rumah mungil itu menjadi atas nama si cungkring. Yeeeyyyy.... Alhamdulillah ya Robb, perjuangan kita usai sudah. Kalo gue flash back ke belakang, gimana kita begitu banyak menghabiskan energi untuk mencari rumah, memilih rumah, mengumpulkan uang DP, dan sampe akhirnya rumah mungil itu resmi jadi rumah si Cungkring yang nantinya jadi rumah gue juga, hehe.. terharu dan seneng banget bangett... hiks... perjuangan untuk memiliki rumah sendiri begitu berkesan. Detik-detik batas waktu pelunasan DP juga diwarnai berbagai intrik. Alhamdulillah dikasih jalan yang mulus sama Alloh. Semoga terus-terusan berjalan mulus ya dear...

 Bahagia gue membuncah setinggi puncak gunung semeru (halah lebay)..  deg-degan gak ketara, karena next step, next pembicaraan kita engga lagi melulu tentang rumah, tapi pernikahan.. hehe..
Desember 2013 menjadi salah satu titik kebahagiaan rentetan perjalanan kita ya dear...

 
Alhamdulillahirobbila’alamiin... :) Thanks Alloh for our wonderfull life :*

 

Selasa, 19 November 2013

Indonesia Dalam Kata: NGELAYAP SINGKAT KE JOGJA, ½ HARI

Indonesia Dalam Kata: NGELAYAP SINGKAT KE JOGJA, ½ HARI: “Tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 8.30 pagi, pulang kembali Jakarta pukul 8.30 malam” Suasana pagi di Jalan Malioboro, Jogja ...


***

Nice posting.. tapi.. ada yang aneh dari tulisan di atas. gue penasaran sama rekannya si penulis yang katanya doyan banget gigitin batang pohon, dan yang pasti gue curiga.. hmm.. karenaseinget gue, pada saat itu, guelah tokoh utamanya. tapi suerrr gue gak gigitin batang pohon, jadi, bagian itu diabaikan saja ya.. huft.

Minggu, 10 November 2013

AMC: Semeru Death Zone - Blank 75

AMC: Semeru Death Zone - Blank 75: Blank 75 adalah sebutan dari kawasan berbahaya (Death Zone/Jalur Tengkorak) pada pendakian Gunung Semeru. Dimana jalur tersebut dapat meny...

******

Oke, Syukur alhamdulillah 2 orang pendaki asal Jakarta telah ditemukan dengan selamat hari ini (Minggu, 10 November 2013). Mereka ditemukan di area Blank 75. ini bukan pertama kalinya pendaki tersesat, hilang, atau menemui kematian di lokasi itu, di Blank 75.

Well.. gue Repost nih Blog AMC buat referensi dan pengetahuan mengenai Blank 75.


Take care guys..


Deadzone Semeru Mount

Indonesia Dalam Kata, SURPRISE!

Indonesia Dalam Kata: Indonesia Dalam Kata, SURPRISE!: Travel mate  saya yang bernama Herry Kurniawan mengigau disela-sela saya sedang sibuk membuka dan membaca blog-blog  traveler  untuk menca...

See my First Posting on Indonesia Dalam Kata, cekidot and tunggu postingan berikutnyaa... hehe

Keep writing, keep learning, keep travelling and keep inspiring!!

#Karena Merasakan Indonesia Tidak Cukup Hanya Dengan Kata#

Rumah Idaman niye, Coming Soon. cikiciw..

Dag Dig Dug..

20 November buruan dateng dong, gelisah rasanya ngejalanin hari-hari di bulan november ini. Pasalnya karena si Cungkring lagi nunggu keputusan dari bank mengenai kepemilikan rumah, rumah kita.. hehe..
dan tanggal 20 November itu adalah batas terakhir pembayaran kita, haha.. gedebak gedebuk nyari hepeng ini mah...

**

Setelah hampir setahun gue dan si cungkring nyari-nyari rumah yang sreg, dari segi lokasi dan pas di kantong, akhirnya diputuskanlah rumah di daerah ...... (masih rahasia), hehe.. emang sih lokasi engga terlalu strategis, namun apalah daya hendak dikata, kita putuskan untuk ambil rumah itu, lantaran kita udah pengen banget cepet-cepet move ke step selanjutnya setelah punya rumah, yaitu persiapan pernikahan, dudududuuu.... semoga lancar niat baiknya...

majalah-majalah tentang desain dan seluk beluk tentang rumah udah ada beberapa yang kita beli, cuma belum sempat kebaca.. gimana mau kebaca, orang pikiran aja masih berfokus sm biaya dan keputusan bank..


gapapa deh, nikmatin aja rasa deg-deg an ini.. sambil berdoa semuanya lancar..
nih gambar majalah tetntang rumah yang kita beli pas Indonesia book fair di Gelora bung Karno kemaren sore, harganya cuma goceng alias 5rebu bo'..... tapi isinya mantap, lengkap dan detail.. hehe jadi ngga salah pilih juga deh..

rekomendasi nih buat yang lagi berencana punya rumah idaman, banyak ide-ide bagus dari majalah-majalah model kayak begini...


penampakan majalah 5rebuan 

penampakan majalah 10rebu an



So, cepetan selesai urusan sama bank nya, trus bisa fokus ke pernikahan dan fokus desain rumah idaman..


#can't wait !

Bride to Be - in to the wedding day :)

Bride To Be – Yes I do. Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut gue setelah si Cungkring dengan panjang lebar menjelaskan keinginannya.

**
Waktu itu pas banget idul Adha, tepatnya hari Jumat, tanggal 26 Oktober 2012 (10 Dzulhijjah 1433H). Gue diajak si Cungkring ke JCC buat liat pameran rumah. Tapi surprise, pulang dari sana si Cungkring tiba-tiba minta gue untuk jadi istrinya. Sepertinya dia kerasukan setan JCC. Hhuahh.. tiba-tiba perut gue mendadak mules, kepala puyeng, kuping budek, darah terasa berhenti, ludah terasa pait, mata ngga bisa ngedip, dan pandangan buyarrr…. Duarrr!! Haha lebay sekali ya gue. Tapi emang itulah yang sempat gue rasakan. Panjang lebar perbincangan malam itu. dan KFC Cilandak jadi saksi pembicaraan berjam-jam kita disana.

"Mau jadi istri aku kan?" *kriikk..kriik..kriikk*
Pertanyaan yang simple tapi… ehem..
**

Yes, keinginan dia waktu itu klik lah dengan keinginan gue. Finally, He proposed me personally. Belum ke orang tua sih, tapi setidaknya gue pernah GR diminta jadi nyonyanya si Cungkring, hehe..   Belum ditentukan kapan kita mau merit nya, tahun? Bulan? Tanggal? Belum sama sekali terfikirkan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani semua ini seperti biasa, sampe nanti waktunya tiba, sambil bebenah diri, menyelesaikan tugas-tugas dan amanah yang masih harus diselesaikan, dan yang pasti kita harus nabuuungg…. Hhuaaa..

Pertanyaan-pertanyaan seperti :
-          Nikah di gedung apa di rumah?
-          Tema nya apa?
-          Souvenirnya gimana?
-          Undangan?
-          Pake EO ngga?
-          Bulan madu (apa lagi, gak kepikiran)
-          Catering apa masak sendiri?
-          Ngadain sekali apa 2 kali?
-          Mahar? Mas kawin?
-          Seserahan?
-          Dkk

Semua itu ngga sama sekali terfikirkan. *huft*

Yang menjadi fokus utama adalah, bagaimana si Cungkring mengutarakan niatnya kepada Papa dan keluarga besar di Medan dengan segala dilematis yang ada, juga harus mengutarakan ke mamanya di rumah.. eng ing eng.. PR yang sangat berat ya.

Waktu berjalan dan Alhamdulillah jalan kita dipermudah sama YME. Bulan Maret si Cungkring pulang ke Medan, dan semua beres. Papa dan keluarga besar suka dong sama gueee.. yeyeyellelelyeyee.. Dan Alhamdulillah juga, PDKT ke mama lancar. Jadinya ya tinggal fokus ke tantangan berikutnya, yaitu PUNYA RUMAH SENDIRI. Ngok!

Yep. Kita udah sepakat untuk menikah klo Cungkring udah punya rumah sendiri, its OK masih KPR, setidaknya habis menikah kita tidak perlu ngontrak dan ada tempat untuk memadu kasih (hehe.. yang ini disensor). Its OK ukurannya kecil, yang penting akan hangat dengan kasih sayang. Ya.. begitulah impian kita sebelum menikah. Semoga keinginan kita ini diberi jalan kemudahan sama Yang Maha Punya, Allah SWT. Amin..

**
Yes I am Happy, dear. Aku menikmati tiap detik perjalanan menuju hari itu. Aku menikmati tiap detik perjuangan kita untuk mendapatkan keinginan kita, mewujudkan impian kita. Membina rumah tangga kecil, membesarkan dan mendidik anak-anak kita kelak. Tak apa kita hanya mampu sampai batas ini, ini maksimal yang bisa kita lakukan, tapi nanti anak-anak kita kelak harus menjadi sesorang yang lebih berarti. Itukan mimpi kita, dear? :’)
**

Kegiatan kita selanjutnya, sibuk cari-cari rumah dan nabung buat DP rumah nya. But, its does not stop us to keep travelling, yeay!

Bride To Be – I can’t wait the day :)))

 
Photo ilustrasi : dari google 


Senin, 07 Oktober 2013

Selamat Jalan, sahabat..



Tetes air mata mengiri kepergian sahabat, apapun yang bisa kulakukan saat itu, saat-saat kepergian sahabat, saya lakukan. Mengangkat kursi, naik turun tangga bolak balik dengan kain super ribet ditambah sandal heels 12cm, urus ini itu, membuat berkeringat dan mungkin make up ku sudah luntur, semua tak terfikirkan, yang terfikirkan hanya agar sahabat bisa pergi dengan indah dan semua berjalan dengan baik.



Pergi lagi sudah sahabatku, menempuh kehidupan baru. Disana penuh dengan janji kehidupan dan harapan yang lebih baik. Aku yakin kau akan bahagia.  Selalu.. meskipun kau sudah jalan lebih dulu, aku yakin nanti kita akan bertemu dan bercengkrama bersama lagi, berbagi cerita.. raihlah mimpi-mimpimu, tegarlah laksana karang di lautan yang memecah ganasnya gelombang di lautan, seperti akar pepohonan yang semakin menjalari tanah dan menguat, jadilah kau seperti atap rumah yang melindungi penghuninya dan memberikan kenyamanan, jadilah kau seperti air pelepas dahaga disaat haus, dan berilah kesejukan lewat tutur kata dan sikapmu, karena lettak surgamu kini berada pada pasanganmu..

Selamat jalan sahabat, semoga kelak kita dipertemukan kembali disuatu persimpangan jalan, kamu dengan pasanganmu, dan aku dengan belahan jiwaku..

Selamat jalan, sahabat..

061004-061013

Rabu, 07 Agustus 2013

Tau Nggak? Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Mohon maaf lahir batin..

Tau Nggak? Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Moho...:  SELAMAT Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal 'Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan ...

Tau Nggak? Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Mohon Maaf Lahir Batin..


 SELAMAT Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal 'Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari Lebaran/Idul Fitri baik melalui lisan ataupun kartu ucapan.

Namun tahukah Anda apa arti kalimat tersebut ?


Hal ini perlu disampaikan, karena banyak yang yang mengira bahwa arti kalimat Minal 'Aidin wal Faizin adalah mohon maaf lahir dan batin... Mari kita simak arti kalimat sebenarnya... semoga bermanfaat.... ^^

Para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat TaqobalaLLaahu Minnaa wa Minkum di antara mereka.

Arti kalimat ini adalah: Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: Shiyamana wa Shiyamakum, artinya : semoga juga puasaku dan kalian diterima.

Namun bila ditambah kata-kata Taqobal Yaa Karim, artinya : Semoga (Terimalah do'a kita) Ya ALLAH, Yang Maha Terpuji.

Lalu bagaimana dengan kalimat: Minal 'Aidin wal Faizin?

"Minal Aidin wal Faizin" sebenarnya adalah do'a yang artinya : “Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Jelaslah, meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, kalimat ini tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.

Kesalahan Penulisan

Pertama, kesalahan penulisan pada kata “Minal ‘Aidin wal Faizin” yang kadang ditulis seperti beberapa contoh dibawah ini :

1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan indonesia
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”


Nah, sebenarnya kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin adalah penggalan sebuah Do'a yang lengkap, yakni : "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin" yang artinya : “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.
 

[sumber] [R3Y] repost.

Minggu, 28 Juli 2013

Jatuh Cinta (lagi)..

I Love Me "DANA LUTHFIANA": Jatuh Cinta (lagi)..: dan akhirnya, saya jatuh cinta (lagi).. Saya pernah kehilangan seseorang, seseorang yang sangat berarti di hari-hari saya. Saya pernah...

Untuk DIA saat Tugas Akhir

I Love Me "DANA LUTHFIANA": Untuk DIA saat Tugas Akhir: *tulisan ini ditulis pada saat perjuangan menyelesaikan tugas akhir* hampir 2 tahun yg lalu.. dengan sedikit editing penyesuaian kondis...

Untuk DIA saat Tugas Akhir


*tulisan ini ditulis pada saat perjuangan menyelesaikan tugas akhir* hampir 2 tahun yg lalu.. dengan sedikit editing penyesuaian kondisi dimasa sekarang *nyengir*


Senja baru aja menjemput malam, kumandang adzan maghrib masih menggema menggantung di langit-langit yang berwarna kemerahan..
*Sigh*

Gue baru aja recovery, hm.. baru akan. Tapi gak lama lagi gue harus kembali ke rutinitas membosankan, menyelesaikan seperempat lagi jalan yang kemarin gue pilih…. Pilihan untuk menghentikan langkah di saat yang tepat. Nanti, saat semua orang dilingkungan gue tersenyum bangga dengan membuka lebar tangan dan tubuhnya meminta merasakan hangat tubuh gue… sebuah pelukan, sebuah kecupan… selamat! Hari dimana kedua orang tua gue “sedikit” bangga atas kenakalan gue selama ini.. setidaknya, mereka masih punya rasa bangga…

Hampir seminggu gue lari-lari. Marathon bahkan. Menyelesaikan salah 1 tujuan yang pernah dicetuskan dulu, saat gue masih pake baju putih item berdasi item pula, saat baru masuk kampus APP, saat AMT…
Lulus tepat waktu, dengan nilai yang baik, “cumlaude”…Nggak terlalu sulit sebenernya untuk mencapai itu, tapi memang banyak rintangan selama perjalanan menuju itu. Untung ada dia, seseorang yang selalu memotivasi, dengan caranya… cara uniknya.

sekarang Dia lagi tidur pules nih, disamping gue, setelah beberapa hari kita gak tidur. Dari pagi ketemu pagi sampe ketemu malem dan ketemu pagi lagi, kita selalu bareng-bareng. Begadang bareng, melek bareng, tidur bareng, ups…. Ketiduran bareng maksudnya… Ngerjain TA. Menyelesaikan 1 amanah orang tua kita. Dan mempersembahkan 1 hadiah special yang mungkin gak berarti buat mereka, gelar cumlaude.. sampe gue menulis ini, kita masih berjuang mendapatkan itu… dan gue juga masih perjuangkan untuk jadi yang terbaik, minimal dengan nilai tertinggi gue..

Gue amat sangat menikmati masa-masa ini…. Masa2 bersama dia… masa2 dimarahin, diomelin, dibentak, dan disayang dia…… lengkap rasanya kalo ada di deket dia, gue bisa nangis dan bisa ketawa bareng dia, gue bisa bener-bener serius dan jadi orang tercheerful kalo sama dia, gue bisa jadi orang yang bijak dan sok ngeyel kalo sama dia, gue bisa jadi apapun…

Gak cuma menuntut, gak cuma marah-marahin gue, gak cuma bawel, tapi dia juga sering kasih gue reward atas 1 langkah keberhasilan gue melawan malas gue, cukup 1 pelukan dan 1 ciuman hangat. cukup menjadi energy terbesar saat gue rapuh.. haha…. Jalan-jalan, melupakan penat bersama, liburan…. akh…. nyaman banget sama dia…… dan dia juga menikmati ini semua sama gue (kan?)……. Sampe kapan ya bisa kayak gini? semoga bisa selamanya, amin yra.

Di tulisan ini, gue cuma pengen ucapin kata terima kasih, buat dia, yang ada saat suka, duka, susah, bahagia, tawa, tangis, hujan, panas, siang, malam, pagi, senja, sakit, sehat, yang dalam keadaan apapun ada buat gue.. walau gak ada yang pernah tau tentang ini, cukup kita, sahabat, malaikat, dan Tuhan yang tahu…. Terima kasih udah bantu gue tuntaskan 1 persen dari 100 persen hal yang masih harus dikerjakan…..

Tetap jadi sandaran gue ya, saat gue rapuh…….
Selama ini gue latih otot perasaan gue, buat terbiasa dengan kerasnya latihan yang lo berikan, tapi kadang gue lelah.. dan butuh sejenak bersandar, dan terima kasih udah pinjemin gue dada atau pundak lo :)


believe in <3